Membangun Website TIDAK HARUS SELALU MAHAL!

Posted in Informasi, Website Profesional with tags on 20 November 2010 by Ludovikus

Pada masa kini, website atau pun blog adalah  sarana yang cukup efektif untuk memperkenalkan buah karya atau produk perusahaan dari semua tingkatan. Bahkan setiap orang mempunyai hak untuk memiliki dan menggunakan website atau blog pribadi sebagai sarana ekspresi dan sharing pemikiran atau buah intelektual.

Dahulu jika orang berbicara mengenai website atau blog, yang langsung muncul dalam pikiran adalah kerumitan pembangunan website/blog. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi informasi, aneka kemudahan dapat diraih, termasuk cara membangun sebuah website/blog yang profesional. Selain mudah, website/blog yang profesional juga tidak begitu “menguras kocek” alias semakin MURAH. Perkembangan ini tidak pernah terlepas dari peran banyak orang kreatif di bidang ini. Kita patut berterima kasih kepada mereka.

Jika Anda, pembaca blog ini, sedang berencana untuk membuat sebuah website/blog yang PROFESIONAL dan dengan HARGA YANG SANGAT MURAH, silakan berkunjung ke sini: http://www.ksmindonesia.org/web. Hanya dengan mengeluarkan biaya mulai dari Rp180.000 (Seratus Delapanpuluh Ribu Rupiah) sampai dengan Rp360.000 (Tiga Ratus Enampuluh Ribu Rupiah) Anda telah dapat memiliki sebuah website yang dapat diandalkan. Yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa Anda mempunyai kesempatan untuk memilih rancangan yang disukai dari ratusan rancangan yang ditawarkan. Bahkan Anda dapat juga mengganti rancangan website Anda kapan saja. Atau Anda ingin belajar mengembangkan website sendiri? Nah, jika demikian, Anda cukup membeli Materi Tutorial dan Program pembuatan website dengan harga Rp100.000 (Seratus Ribu Rupiah).

Yang perlu diketahui bahwa biaya domain dan hosting website Anda untuk tahun pertama sudah termasuk di dalam biaya pembelian website di atas, dan tidak akan ada biaya lain (misalnya, pemeliharaan tahunan, dll.). Biaya hosting dan domain untuk tahun kedua dan selanjutnya tidak lebih besar dari angka di atas. Jika Anda menghadapi kesulitan saat mengisi website Anda, administrator akan dengan cepat memberikan tanggapan dan solusi atas persoalan yang Anda hadapi.

Saya meyakinkan Anda bahwa Anda tidak akan kecewa! Malah sebaliknya, Anda akan memperoleh begitu banyak pengalaman baru.

SELAMAT MENCOBA!!! Salam hormat saya.

Iklan

Informasi Singkat: Surat Pernyataan

Posted in Informasi with tags , on 19 November 2010 by Ludovikus

Teman-teman, jika Anda hendak mengurus ISBN, jangan lupa membuat SURAT PERNYATAAN kesediaan untuk menjadi anggota ISBN. Contoh/model dan isi surat tersebut dapat dilihat di:

http://www.putrapaulundu.co.cc

Semoga bermanfaat!

Salam hormat.

Ke Manakah Bangsa ini Melangkah?

Posted in Politik on 30 Agustus 2010 by Ludovikus

Teman-teman, silakan membaca tulisan mengenai tanggapan saya secara pribadi atas persoalan “gangguan bangsa asing” terhadap kedaulatan bangsa dan negara INDONESIA di dalam situs berikut ini ….

http://putrapaulundu.co.cc/?p=486


Santo Pius X: Lahir Sebagai Orang Miskin, Hidup Miskin, dan Mau Mati sebagai Orang Miskin

Posted in Orang Kudus with tags , , on 21 Agustus 2010 by Ludovikus

Hari ini Gereja Katolik memperingati salah seorang tokoh penting di dalam perjalanan ziarah iman. Dialah Santo Pius X, yang dilahirkan dengan nama Guissepe Melchiore Sarto. Dia lahir sebagai putra kedua dari 10 bersaudara dari sebuah keluarga petani miskin.

Ketika remaja, Sarto belajar di sekolah pendidikan calon imam hingga ditahbiskan sebagai imam dan ditugaskan sebagai kepala sebuah paroki. Selama beberapa tahun dia memimpin umat di parokinya dengan penuh kesetiaan. Kemudian dia diangkat sebagai uskup. Sebagai uskup dia membuat begitu banyak perubahan dalam kehidupan iman umat di keuskupannya. Kondisi iman umat yang kacau-balau akibat pelbagai persoalan sosial menjadi pokok perhatiannya. Katekese umat digerakkan. Hasilnya, terjadilah perubahan dalam penghayatan kehidupan iman Katolik. Hubungan antara Gereja dan negara pun mengalami perbaikan.

“Prestasi” Uskup Sarto menarik perhatian Paus Leo XIII. Dia pun diangkat menjadi batrik Venisia dan kemudian diangkat menjadi Kardinal. Ketika Paus Leo XIII wafat, para Kardinal yang mengikuti Konklav di Vatikan memilih Kardinal Sarto menjadi Paus. Semula dia menolak tetapi kemudian dia menerima hasil pemilihan itu dan memilih nama Pius X.

Dalam masa kepemimpinan Pius X ada banyak perubahan di dalam kehidupan menggereja. Setidaknya ada beberapa hal yang menonjol, seperti, anjuran agar umat Katolik lebih sering menerima Komuni Kudus, bahkan setiap hari, pemberian Komuni Kudus kepada anak remaja, perubahan dalam tata liturgi. Namun, ada hal lain yang mungkin dapat disebut sebagai “kelemahan” Pius X, yakni “kecurigaannya” terhadap keterlibatan umat dalam gerakan-gerakan sosial-politik, juga kutukan terhadap “gerakan modernisme”.

Menjelang ajal, Pius X menulis surat wasiat. Surat wasit itu seakan menyibak “kesejatian dirinya”. Dia menulis, “Aku telah lahir sebagai orang miskin, hidup miskin, dan aku mau mati sebagai orang miskin.” Tak lama setelah Pius X wafat, muncul begitu banyak dukungan agar Almarhum dapat segera diangkat sebagai “orang kudus” (Santo).

Keutamaan-keutamaan hidup, seperti, kesederhanaan, kerendahan hati, dan ketegasannya sebagai Pemimpin Gereja Katolik membuat Santo Pius X pantas menjadi tokoh teladan penghayatan iman Katolik, dan khususnya sebagai inspirasi bagi para pemimpin Gereja.

Santo Pius X, doakanlah kami. Amin.

Pernyataan Pers Para Wakil Rakyat di Senayan dan Para Aktivis Sosial

Posted in Informasi, Kisah Antarkita, Pancasila, Politik with tags , , , on 30 Juli 2010 by Ludovikus

Catatan pengantar:


Teman-teman dan para pembaca,

beberapa waktu silam saya mendapatkan kiriman sebuah berita mengenai tanggapan sejumlah wakil rakyat dan para aktivis mengenai situasi aktual di dalam masyarakat kita, terutama menyangkut aneka tindakan yang mengatasnamakan agama tertentu. Mengingat tanggapan ini penting bagi kehidupan kita bersama sebagai sebuah bangsa, saya sengaja menerbitkan kiriman teman tersebut di sini. Semoga berita ini berguna untuk menggugah kesadaran dan tanggung jawab bersama kita semua sebagai sebuah bangsa yang berlandaskan PANCASILA. Berikut ini bunyi pernyataan tersebut selengkapnya!

KAUKUS PANCASILA PARLEMEN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT – DEWAN PERWAKILAN DAERAH

REPUBLIK INDONESIA

Memprihatinkan:

  • meningkatnya kecenderungan tindakan premanisme oleh “gerombolan berjubah” yang cenderung mengklaim diri paling benar dalam beragama, bercirikan mengganggu ketertiban umum, main hakim sendiri, menggunakan kekerasan, adalah tidak sejalan dengan prinsip Negara berdasar Konstitusi.
  • Sikap Polisi yang acuh dan melakukan pembiaran terhadap tindakan mereka berbuah teror dan mengganggu kelompok masyarakat lain merupakan tindakan diskriminasi dan opresi, adalah merupakan pelanggaran hukum.

Maka, Kaukus Pancasila Parlemen RI dan beberapa kelompok masyarakat pro kebhinekaan Indonesia menuntut:

1)      Presiden, sebagai kepala pemerintahan untuk bertindak tegas dan membuktikan pernyataannya bahwa Negara tidak boleh kalah dengan perilaku-perilaku kekerasan yang ditunjukkan oleh FPI maupun yang lainnya. Sepatutnya Presiden memerintahkan penegakkan hukum terutama kepolisian untuk menindak tegas para pelaku kekerasan dari FPI dan sejenis dimanapun dan kepada siapapun.

2)      Kapolri, agar menghentikan tindakan pembiaran oleh aparat Polisi terhadap aksi kekerasan gerombolan-gerombol an “preman berjubah” terhadap kelompok masyarakat lainnya terutama dalam kaitan kebebasan beribadah dan berkumpul warga negara.

3)      Kapolri dan TNI serta Pemerintah untuk mempertanggungjawab kan kebijakan membidani dan membesarkan FPI, namun tidak mampu membina, mengkontrol sehingga menjadi organisasi yang cenderung main hakim sendiri secara massal bahkan mempermalukan Negara di forum-forum HAM internasional akibat berbagai tindakan brutal gerombolan ini.

4)      Kepada para korban dari tindakan-tindakan pemanisme FPI, dihimbau untuk memberikan laporan kepada kepolisian guna meminta kasus-kasus mereka untuk ditindaklanjuti sehingga Pengadilan mempunyai alasan untuk menjadikan FPI sebagai organisasi terlarang. 

5)      Kepada DPR agar menyatakan kecaman dan protes terhadap tindak kekerasan FPI dan kepada Polisi yang membiarkan tindakan main hakim sendiri yang mereka lakukan kepada 3 anggota Komisi IX yang sedang melakukan tugas konstitusionalnya di Banyuwangi baru-baru ini.

Jakarta, 28 Juni 2010

1.      Bambang Soesatyo – Fraksi Partai Golkar

2.      Hetifah – Fraksi Partai Golkar

3.      Eva K Sundari –Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

4.      Indah Kurnia – Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

5.      Dolfie OF Palit – Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

6.      Ian Siagian – Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

7.      Arif Budimanta – Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

8.      Budiman Sujatmiko – Fraksi PDI Perjuangan DPR RI

9.      Ana Muawammah – Fraksi Kebangkitan Bangsa

10.  Hanif Dhakiri – Fraksi Kebangkitan Bangsa

11.  Abdul Hamid Wahid – Fraksi Kebangkitan Bangsa

12.  Akbar Faisal – Fraksi Hanura

13.  Ulil Abshar – Partai Demokrat

14.  GHR Ratu Hemas – DPD DIY

15.  I Wayan Sudirta – DPD Bali

16.  Lerry Mboik – DPD NTT

17.  Emmanuel Babu Eha – DPD NTT

18.  Abraham Liyanto – DPD NTT

19.  Tonny Tesar – DPD Papua

20.  Eni Khairani – DPD Bengkulu

21.  Nia Syarifudin – Aliansi Bhineka Tunggal Ika (ANBTI)

22.  Nong Darol Mahmada – Freedom Institute

23.  Anick Ummah – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

24.  Johannes Haryanto – – Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

25.  Martin Manurung – National Democrat

26.  Benny Susetyo – Setara Institute

27.  Trisno S Sutanto – MADIA

28.  Amanda Suharnoto – MADIA

29.  Eko Prananto – MADIA

30.  AAGN Ari Dwipayana – Fisipol UGM

31.  Fajar Riza Ul Haq – Maarif Institute

32.  Ahmad Suedy – Wahid Institute

33.  Gomar Gultom – PGI

34.  Indria Fernida – Kontras

35.  Uli Van Sihombing –

36.  Judianto Simanjuntak – Ut Omnes Unum Sint Institute

37.  Saor Siagian – Tim Pembela Kebebasan Beragama

38.  Ajeng – Yappika, Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3)

“Kunjungan Kegembalaan Mgr. Hubertus Leteng ke Lokasi Tambang di Reok”

Posted in Gereja Katolik, Informasi, Lingkungan Hidup with tags , , , , on 27 Juli 2010 by Ludovikus

Kemarin, Senin (26/7), di dalam “status” situs jaringan sosial facebook, Rm. Laurens Sopang, Pr., membuat sebuah catatan dan dilengkapi dengan beberapa buah foto. Bagi saya, catatan tersebut menjadi sebuah kabar menggembirakan sekaligus mengejutkan. Bapa Uskup Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, Mgr. Hubertus Leteng, bersama-sama dengan pejabat Keuskupan Ruteng, pejuang keadilan dan keutuhan ciptaan serta sekelompok masyarakat langsung datang ke lokasi tambang mangan di wilayah Reok, bagian utara Kabupaten Manggarai, Flores. Di lokasi tambang sebuah spanduk besar dibentangkan. Pada spanduk tertera tulisan ukuran besar “SELAMAT DATANG YANG MULIA BAPA USKUP RUTENG. MGR. HUBERTUS, PR DI LOKASI PENGHANCURAN TERPIMPIN HUTAN LINDUNG …”. Bapa Uskup bersama dengan semua yang hadir berdiri di balik spanduk dan memegang spanduk seakan-akan menyampaikan dengan tegas sebuah pesan … “Lihatlah kenyataan alam yang telah hancur ini…!”

Ketika membaca catatan Vikjen Keuskupan Ruteng itu dan melihat foto-foto yang ditampilkan, saya langsung teringat akan pandangan sekilas saat terakhir saya melintas wilayah tersebut Oktober 2009 untuk kesekian kalinya. Pertama kali saya berkunjung ke daerah itu awal 2000 untuk tujuan ziarah dan rekreasi. Saat itu tambang sudah ada tetapi lokasi eksploitasinya masih sangat terbatas. Kondisi bukit yang cukup tinggi masih tampak hijau, asri, menyejukkan. Namun, ketika berkunjung lagi tahun silam, saya sungguh terkejut menyaksikan kerusakan hutan dan alam di sekitarnya. Jalan di pantai, yang semula agak sempit, telah diperlebar dengan cara pengurukan bibir pantai. Akibatnya, sebagian hutan bakau telah hilang. Ironisnya, di sekitar lokasi pengurukan, di bibir pantai dekat kapel Torongbesi, masyarakat sedang berupaya menanam pohon bakau untuk mengurangi dampak abrasi pantai. Nah, selain itu, untuk meratakan jalan ke lokasi tambang, perusahaan dengan mudahnya menggursur pasir pantai.

Pemandangan di pantai dan bukit sungguh menyesakkan dada, menyedihkan. Bukit-bukit yang sebelumnya hijau menyejukkan kini telah berubah menjadi bukit pasri dan debu yang kemudian beterbangan bersamaan dengan kendaraan-kendaraan berat yang terus menggerus dengan ganas tanpa ampun. Bukit digerus, hasilnya diangkut. Beberapa buah dump tack terus-menerus lalu-lalang, meraung-raung membawa hasil tambang, yakni mangan, ke pelabuhan pengangkutan, yang terletak cukup dekat dengan lokasi tambang. Di sana sudah menanti operator pemrosesan mangan sebelum dibawa keluar dengan tongkang yang selalu siap di tempat.

Kini, bumi, tana ata Rego, yang memberikan kehidupan kepada masyarakat telah dihancurkan, diluluhlantakkan, meranggas, merana. Demi apa semuanya ini dikorbankan? Ya, demi sebuah cita-cita mulia: peningkatan Pendapatan Asli Daerah, yang menurut orang-orang yang berkuasa dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apakah benar demikian? Tujuan ini masih perlu diuji kebenarannya! Ujian yang paling mudah atas “klaim” ini adalah kondisi yang secara kasat mata dapat langsung kita saksikan. Tidak ada fasilitas yang membuat masyarakat menjadi lebih sejahtera. Maka, pesannya jelas bahwa masyarakat sama sekali tidak menikmati hasil tambang itu.

Mari kita perhatikan dengan saksama kondisi masyarakat di sekitar lokasi tambang! Bagaimana kehidupan mereka? Apakah ada perubahan nyata menjadi lebih baik taraf kehidupan mereka? Padahal sebuah perusahaan yang kredibel mempunyai tanggung jawab social. Mengenai tanggung jawab sosial ini, World Business Council for Sustainable Development menyatakan bahwa CSR (Corporate Social Responsibility) “merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.”[1]

Berangkat dari pengertian sederhana ini, mari kita mengajukan pertanyaan ini: apakah perusahaan itu juga mempunyai komitmen atas tanggung jawab sosialnya? Jawabannya jelas punya karena tidak ada perubahan apapun dalam kehidupan masyarakat! Perusahaan tambang tersebut tidak punya tanggung jawab sosial. Mereka adalah investor berhati gelap segelap warna mangan, tetapi mata duitan, sehingga urusan mereka adalah keuntungan. Tanggung jawab sosial terhadap masyarakat justru akan mengurangi keuntungan mereka. Bagi mereka berlaku pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang ahli Taurat kepada Tuhan Yesus dahulu, “… siapakah sesamaku manusia? (Lukas  10: 29) atau pertanyaan “pura-pura bodoh“ Kain kepada Yahweh, Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4: 9)

Lantas apa yang dinikmati oleh masyarakat Reok, khususnya yang berada di sekitar lokasi tambang tersebut? Masyarakat kebanyakan terpaksa hanya “menikmati” akibat negatif pertambangan, yakni debu-debu mangan yang dalam waktu lama akan menimbulkan pelbagai penyakit, terutama yang menyangkut pernapasan. Akibat lainnya adalah kerusakan ekologis dan ekonomis. Dampak ekologis jelas! Wilayah pantai yang sangat panas akan semakin panas karena sebagian hutan yang “bertugas” menyerap karbondioksida telah dihancurkan. Dampak ekonomisnya adalah kesulitan masyarakat untuk mencari kayu bakar untuk dijual. Mereka juga sulit untuk mendapatkan hewan buruan karena wilayah tambang telah menjadi areal tertutup, hanya bagi operator dan buruh perusahaan tambang. Ini cuma satu contoh kecil!

Oleh karena itu, ketika membaca kabar tersebut, saya merasa cukup terhibur. Harapan akan keutuhan alam yang semestinya dijaga dan dipelihara seakan bangkit kembali. Kemunculan Bapa Uskup Ruteng di lokasi tambang menjadi sebuah simbol yang sarat makna bahwa suara profetis Gereja mesti sungguh nyata di dalam tindakan, tidak hanya dalam homili, kotbah, renungan dari atas mimbar. Ketidakadilan yang terjadi, kehancuran alam yang radikal, proses pemiskinan masyarakat lokal, dan segala akibat lainnya kehadiran tambang tidak dapat dibiarkan. Masyarakat memang sangat membutuhkan perubahan dan peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Namun, cita-cita mulia ini tidak dapat dikejar dan diperjuangkan dengan “menghalalkan segala cara”, termasuk dengan “membunuh ibu yang menghidupkan mereka”.

Masyarakat lokal tidak mempunyai kemampuan sekaligus tidak ingin bertindak beringas seperti para pemilik modal yang rakus itu. Masyarakat cuma mengambil yang perlu untuk kehidupan mereka. Namun, perusahaan tambang berani merusak alam, mengeruk isi perut bumi dan pergi dengan segepok keuntungan dan kemudian meninggalkan masyarakat lokal. Masyarakat lokal pun dibiarkan merana sedih karena ibu mereka telah “diperkosa dan dibunuh” secara sadis oleh orang-orang asing dan “orang-orang yang mengasingkan dirinya dari lingkungan masyarakatnya sendiri demi uang dan kekuasaan”.

Ada beberapa harapan yang muncul dari peristiwa “kunjungan Mgr. Hubertus Leteng ke lokasi tambang” di Torongbesi itu. Pertama, peristiwa ini mengundang dan menggugah hati segenap lapisan masyarakat juga para pemangku jabatan pemerintahan untuk mengevaluasi kembali apakah kebijakan-kebijakan yang diambil telah sungguh mendukung perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kedua, keselamatan dan keseimbangan lingkungan hidup adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Ketiga, agaknya ganjil, aneh, dan mungkin juga nyleneh, kalau di seluruh penjuru dunia, masyarakat berteriak-teriak meminta perhatian terhadap keselamatan hutan dan seluruh lingkungan hidup untuk mengurangi efek pemanasan bumi, kita malah bertindak sebaliknya. Keempat, berkenaan dengan perayaan Kemerdekaan bangsa kita, baiklah seluruh lapisan masyarakat, khususnya para pemegang kekuasaan untuk berefleksi … bagaimana efek penggunaan kekuasaan mereka terhadap kehidupan masyarakat dan misi masyarakat dunia?


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan, diakses dari G. Kencana 8-10 Bandung, Selasa, 27 Juli 2010, jam 14.06 WIB.

Pertemuan KSM Ciumbuleuit, Bandung

Posted in Informasi, Kabar Keluarga, Kerabat St. Montfort (KSM) with tags , , on 23 Juli 2010 by Ludovikus

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya bekerja bersama dengan sejumlah umat Katolik di lingkungan Ciumbuleuit, Bandung, dalam merintis sebuah kelompok baru Kerabat Santo Montfort (KSM). Kehadiran KSM di lingkungan kami sungguh dibilang unik karena persis di lingkungan ini serikat kami selama puluhan tahun hidup dan berkarya. Namun, KSM tidak langsung hadir. Malahan, KSM mulai terbentuk di wilayah Buah Batu, yang secara geografis agak jauh dari komunita kami. Ungkapan lama, lebih baik terlambat daripada tidak ada mungkin cocok diterapkan dalam situasi ini. Karena itu, setelah dibuat kesepakatan mengenai waktu dan tempat, kami pun memulai pertemuan pembuka yang dihadiri oleh sekitar 18 umat.

Setelah persiapan awal, kami pun segera melaksanakan sebuah proses yang disebut “Ziarah Totus Tuus”, yang terdiri dari 4 tahap. Di dalam setiap tahap kami mesti membahas 7 topik/tema yang berbeda. Demi alasan praktis, pertemuan “Totus Tuus” itu dilaksanakan secara tetap pada setiap Rabu malam, jam 19.00-21.00 WIB. Namun, kadang-kadang pertemuan “molor” sampai dengan jam 21.30 WIB karena kami masih melanjutkan acara santai sejenak sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Tempat pertemuan di komunitas saya hidup dan berkarya, di Jln. Gunung Kencana.

Secara pribadi saya mesti mengakui bahwa saya sungguh menghargai sekaligus mengagumi komitmen dan antusiasme mereka dalam menghadiri dan mengikuti dengan aktif pertemuan demi pertemuan. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan dengan tulus bahwa Rabu adalah hari yang dirindukan untuk cepat datang. Bagi saya, komitmen dan semangat Bapak-Ibu, Saudara-saudari, para calon anggota KSM Ciumuleuit ini, sungguh membawa sebuah angin segar dalam kehidupan dan karya saya serta meneguhkan pilihan hidup saya.

Kami memang masih akan terus berjalan bersama dalam menapaki “ziarah kehidupan” ini langkah demi langkah sebagaimana telah diajarkan oleh Santo Louis-Marie de Montfort. Namun, sebagai salah satu bentuk kecil apresiasi pribadi saya kepada mereka, saya membagikan beberapa foto salah satu pertemuan kami sekitar dua minggu silam. Terima kasih kepada Pak Gregorius Taufik, salah satu peserta pertemuan, yang telah mau berbagi foto-fotonya dengan saya.

Nah, ini dia wajah-wajah para calon anggota KSM Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat.

Saya sengaja memilih “Bunda Maria, Ratu Segala Hati”, “St. Montfort”, dan “Para Anggota KSM” sebagai “bintang” di dalam album ini karena kami hendak berjalan bersama dengan Bunda Maria, Ratu Segala Hati, yang berperan sebagai pembimbing dan motivator kami untuk mengikuti Yesus Kristus, Putranya. Dua bintang pertama dengan mudah dikenali. Namun, bintang ketiga (para anggota KSM) mungkin akan tampak agak membingungkan karena yang muncul bukan wajah orang, melainkan sebuah patung malaikat. Secara singkat saja saya jelaskan bahwa di dalam patung “Bunda Maria, Ratu Segala Hati” (Latin: Regina Cordium) ada empat figur yang dengan cukup jelas kita lihat, yakni Bunda Maria, bayi Yesus, St. Montfort (sebelah kiri) dan Malaikat (sebelah kanan). Nah, malaikat inilah simbol sekaligus “wakil” setiap jiwa atau setiap orang yang “membaktikan seluruh diri kepada Yesus Kristus, Kebijaksanaan yang menjelma menjadi manusia, melalui tangan Santa Perawan Maria”.

Demikian saja catatan singkat saya. Sampai jumpa lagi dalam tulisan lainnya.

%d blogger menyukai ini: