Santo Pius X: Lahir Sebagai Orang Miskin, Hidup Miskin, dan Mau Mati sebagai Orang Miskin

Hari ini Gereja Katolik memperingati salah seorang tokoh penting di dalam perjalanan ziarah iman. Dialah Santo Pius X, yang dilahirkan dengan nama Guissepe Melchiore Sarto. Dia lahir sebagai putra kedua dari 10 bersaudara dari sebuah keluarga petani miskin.

Ketika remaja, Sarto belajar di sekolah pendidikan calon imam hingga ditahbiskan sebagai imam dan ditugaskan sebagai kepala sebuah paroki. Selama beberapa tahun dia memimpin umat di parokinya dengan penuh kesetiaan. Kemudian dia diangkat sebagai uskup. Sebagai uskup dia membuat begitu banyak perubahan dalam kehidupan iman umat di keuskupannya. Kondisi iman umat yang kacau-balau akibat pelbagai persoalan sosial menjadi pokok perhatiannya. Katekese umat digerakkan. Hasilnya, terjadilah perubahan dalam penghayatan kehidupan iman Katolik. Hubungan antara Gereja dan negara pun mengalami perbaikan.

“Prestasi” Uskup Sarto menarik perhatian Paus Leo XIII. Dia pun diangkat menjadi batrik Venisia dan kemudian diangkat menjadi Kardinal. Ketika Paus Leo XIII wafat, para Kardinal yang mengikuti Konklav di Vatikan memilih Kardinal Sarto menjadi Paus. Semula dia menolak tetapi kemudian dia menerima hasil pemilihan itu dan memilih nama Pius X.

Dalam masa kepemimpinan Pius X ada banyak perubahan di dalam kehidupan menggereja. Setidaknya ada beberapa hal yang menonjol, seperti, anjuran agar umat Katolik lebih sering menerima Komuni Kudus, bahkan setiap hari, pemberian Komuni Kudus kepada anak remaja, perubahan dalam tata liturgi. Namun, ada hal lain yang mungkin dapat disebut sebagai “kelemahan” Pius X, yakni “kecurigaannya” terhadap keterlibatan umat dalam gerakan-gerakan sosial-politik, juga kutukan terhadap “gerakan modernisme”.

Menjelang ajal, Pius X menulis surat wasiat. Surat wasit itu seakan menyibak “kesejatian dirinya”. Dia menulis, “Aku telah lahir sebagai orang miskin, hidup miskin, dan aku mau mati sebagai orang miskin.” Tak lama setelah Pius X wafat, muncul begitu banyak dukungan agar Almarhum dapat segera diangkat sebagai “orang kudus” (Santo).

Keutamaan-keutamaan hidup, seperti, kesederhanaan, kerendahan hati, dan ketegasannya sebagai Pemimpin Gereja Katolik membuat Santo Pius X pantas menjadi tokoh teladan penghayatan iman Katolik, dan khususnya sebagai inspirasi bagi para pemimpin Gereja.

Santo Pius X, doakanlah kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.