Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani: MALING?!

Pertama-tama saya harus mengatakan bahwa saya bukanlah tipe pribadi yang suka latah atau ikut-ikutan. Apalagi saya mempunyai tugas saya sendiri yang mesti dipertanggungjawabkan juga. Namun, setelah melalui media massa (cetak dan elektronik) mencoba untuk mengikuti proses penyelidikan kasus Bank Century oleh Pansus DPR RI, saya secara pribadi merasa terusik juga. Terlebih ketika ada beberapa peristiwa “ganjil” yang terjadi di dalam ruang sidang Pansus Century, saya merasa terdorong untuk menuangkan kegalauan dan keprihatinan saya dalam catatan berikut ini. Catatan ini adalah sebentuk ungkapan sederhana bahwa dalam peristiwa apapun selalu ada pelajaran penting yang bisa dipetik untuk kehidupan lebih lanjut yang lebih baik, baik pada tataran personal ataupun komunal.

Pertama, sebagai sebuah bangsa, kita sedang dalam taraf belajar untuk berdemokrasi. Karena itu, ada begitu banyak hal yang membutuhkan perhatian seluruh komponen bangsa ini. Di sini, para pemangku jabatan kepemerintahan mempunyai peran istimewa dan menentukan dalam perjalanan hidup bangsa dan negara ini. Saya sengaja menempatkan para pemangku jabatan kepemerintahan pada posisi pertama karena merekalah yang memegang kekuasaan “eksekutif”. Mereka mempunyai kesempatan untuk membuat aneka keputusan strategis, keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi hajat hidup seluruh warga bangsa ini. Nah, mereka ini mempunyai tugas yang amat berat karena mereka tidak hanya berurusan dengan satu atau dua orang tetapi dengan ratusan juta manusia Indonesia, entah langsung ataupun tidak langsung.

Nah, dalam menerapkan/melaksanakan tugas yang amat berat, sudah semestinya mereka sungguh menjaga dan memelihara tanggung jawab pribadi. Persis di sinilah fungsi hati nurani mesti sungguh diperhatikan sebagai benteng “kontrol dan perlindungan internal” agar penyelewengan dari peraturan yang berlaku dapat diminimalisir sedapat mungkin. Tanpa hati nurani yang berfungsi baik, penyelenggara negara akan dengan mudah menelikung segala peraturan dengan alasan apa saja dan demi kepentingan apa saja (jangka panjang dan pendek) dan untuk siapa saja (keluarga, kelompok, rekan bisinis, dll).

Kedua, dalam konteks yang sama, banyak komponen bangsa ini, terutama para aktivis sosial-politis, aktivis lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, dan lain-lainnya, yang kebablasan dalam mengartikan “demokrasi”. Demokrasi diartikan sebagai kebebasan untuk mengekspresikan pendapatan, pandangan, dan perasaan sebebas-bebasnya tanpa kendali, tanpa batas, liar-binal.

Sebagai sebuah contoh yang hampir pasti masih sangat segar dalam ingatan adalah proses pemeriksaan terhadapa dua pejabat negara, yakni Wakil Presiden, Pak Budiono, dan Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani. Ketika sedang diperiksa, pada waktu yang terpisah, keduanya sama-sama diteriaki “maling” oleh salah seorang aktivis gerakan pemberantasan korupsi atau apapun namanya. Mungkin tindakan itu adalah ungkapan kekesalan dan kekecewaan yang telah lama ditimbun. Namun, tindakan semacam itu hanyalah sebuah ekspresi ketidakdewasaan kita dalam menghadapi persoalan. Pertanyaan saya, apakah tepat dan benar kalau kedua pejabat negara itu adalah maling? Kalau mereka maling, lantas siapakah kita ini? Jika mereka dianggap sebagai vampir yang haus darah, lantas siapakah kita ini? Mereka adalah representasi bangsa dan negara kita. Karena itu, pantaslah kita menghormati mereka. Tidaklah sepantasnya kita bertindak sedemikian arogan tanpa pernah mau melihat juga diri sendiri dan bertanya: apakah saya sudah sungguh bersih, dalam kadar apapun?! Jika mereka memang terbukti melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan, bukankah negara kita mempunyai hukum? Maka, marilah kita gunakan hati nurani kita untuk menilai setiap persoalan. Jangan membiarkan diri ditunggangi oleh pelbagai kepentingan, apalagi kalau itu kepentingan egosentris, primordial!

Selain itu, tanpa kontrol hati nurani, para pemegang kekuasaan dapat juga terjebak ke dalam sikap arogansi yang menghancurkan martabat sesama dan tentu saja diri sendiri. Mari kita lihat contoh lainnya, yakni ucapan dan sikap anggota Pansus, Ruhut Sitompul, dalam salah satu sesi rapat pansus belum lama ini. Ketika berdebat dengan salah satu pimpinan sidang, Ruhut mengeluarkan kata-kata yang sangat tak layak dan pantas. “Bangsat!” Kalau dilihat dengan akal sehat, Ruhut Sitompul tak pantas untuk menyandang “gelar kehormatan” sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, mungkin hanya sangat pandai bersilat lidah! Selain itu, logikanya pun “hancur”. Dia berani mencap sesama anggota dewan sebagai “bangsat” (= kecoa?!), sementara dia sendiri adalah anggota dewan pula. Nah, kalau ditarik kesimpulannya seperti apa? Dia itu siapa atau apa? [Sebagai warga negara dan rakyat biasa, saya merasa sangat malu mempunyai wakil rakyat yang sikap dan perilakunya sangat rendah!]

Oleh karena itu, baiklah para pemegang kekuasaan, para pejuang penegakan keadilan dan pemrihati nasib bangsa ini, semuanya belajar untuk berdemokrasi secara dewasa. Para pemimpin kita adalah manusia biasa seperti kita juga. Berilah mereka kesempatan untuk mengolah dan membangun negara ini dengan baik. Mari kita dukung mereka dengan sikap kritis tetapi tetap dengan menjaga dan mempertahankan sopan santun. Sesama pemimpin adalah juga manusia, yang punya hati dan perasaan. Jika di negara lain sering terjadi kericuhan dan perkelahian dalam pertemuan parlemen atau pemerintah, fenomena seperti itu bukanlah sebuah justifikasi atas tindakan kita untuk menghina para pejabat negara kita atau untuk mempertontonkan arogansi sikap terhadap sesama.

Akhirnya, saya mengharapkan bahwa pelbagai persoalan yang melilit bangsa ini secepatnya dapat diselesaikan agar roda pembangunan bangsa dan negara ini dapat bergulir lebih cepat. Andaikata kita tidak menyadari betapa penting roda pembangunan terus berjalan, percaya saja bahwa kita akan terus tertinggal dan kemudian tergilas oleh kemajuan bangsa lain. Marilah kita ingat segala kesepakatan mengenai perdagangan bebas yang telah ditandatangani/disetujui oleh para pemimpin negara kita ini.

Maju terus bangsaku, bersatulah warga negaraku! Hidup Pancasila!!!

SANTA PERAWAN MARIA, BUNDA ALLAH: BUNDA PENCINTA DAMAI

 

Hari ini Gereja Semesta merayakan Hari Perdamaian Dunia. Yang lebih penting dari itu adalah Gereja merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah. Bacaan Injil hari ini menjadi pengingat bagi kita ketika mulai mengawali tapak-tapak kecil kehidupan kita di tahun 2010. Penginjil Lukas melukiskan, “… Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2: 19). Bunda Maria menghadapi begitu banyak peristiwa dalam hidupnya berkenaan dengan Putra yang dia kandung dan lahirkan. Kebanyakan adalah peristiwa yang membingungkan. Namun, satu sikap — dan inilah keutamaan Bunda Maria yang pantas kita tiru — yang menjadi kekuatan luar biasa dalam dirinya adalah kemampuannya untuk menerima, menyimpan, merenungkan serta menemukan “makna” setiap peristiwa hidupnya.

Nah, berkaitan dengan Hari Perdamaian Dunia, kita diajak untuk melihat sejauh mana kita berperan dalam menciptakan perdamaian dunia. Satu hal yang mungkin perlu kita renungkan adalah partisipasi kita di dalam mengusahakan damai. “Perdamaian dunia” adalah sebuah istilah agak kabur, yang dapat membuat kita lalu merasa lelah untuk coba ikut berjuang mewujudkannya. Sebetulnya, soalnya tidak seribet itu! Kita dapat berperan dalam menciptakan perdamaian dunia dengan melakukan hal yang sangat sederhana. Mari kita mulai menciptakan perdamaian di dalam diri kita sendiri. Apakah kita telah mampu berdamai dengan diri sendiri? Atau jangan-jangan kita masih berkutat dengan «keributan, hingar-bingar» dalam diri kita? Nah, kalau kita belum mampu untuk berdamai dengan diri sendiri, lantas bagaimana kita berharap untuk berdamai dengan orang lain, terutama dengan mereka yang terdekat dengan kita?

Untuk itu, kita perlu waktu. Kita perlu menyediakan kesempatan untuk « berhenti sejenak » dari segala hiruk-pikuk kehidupan ini dan kemudian melihat « apa makna » semua peristiwa yang kita alami bagi pertumbuhan hidup kita? Nah, persis di sinilah kita berjumpa dengan figur Bunda Maria sebagai Bunda Pencinta Damai dan lebih dari itu … Bunda Sang Pendamai. Dialah teladan kita untuk menciptakan damai : menyimpan semua peristiwa dan merenungkannya di dalam hatinya. Dialah pula teladan “hidup kontemplatif batin” di tengah hiruk-pikuk kehidupan kita.
p>

Jadi, jika kita ingin segala bangsa di dunia ini dapat hidup dalam damai satu sama lain, tidak dapat menanti para pemimpin duduk di meja perundingan. Sebaliknya, marilah kita mulai dari diri kita sendiri! Marilah kita menciptakan perdamaian dalam «dunia kita tampak sempit tetapi sesungguhnya sangat luas». Bukankah «dalamnya laut dapat diukur tetapi dalamnya hati siapa tahu»?

Saya mengucapkan « SELAMAT HARI RAYA BUNDA ALLAH, SELAMAT TAHUN BARU 2010 » kepada Anda semua. Damai di bumi, damai di hati!

Putra Paulundu

Penampakan: Bukan Bagian Hakikat Iman Kristiani!

Saya baru saja melihat sepintas sebuah berita dalam admin situs WP mengenai penampakan Bunda Maria di Mesir. Saya tergelitik untuk membuat catatan singkat berikut ini.

Iman Kristiani tidak didasarkan pada peristiwa-peristiwa artifisial-periferal. Salah satu contohnya adalah penampakan Bunda Maria. Terlepas dari apakah ada penampakan Bunda Maria atau tidak, iman Kristiani tetap kokoh karena ia berdiri di atas fondasi yang tak tergoyahkan, yakni Pribadi Yesus Kristus. Yesus Kristus datang ke atas dunia untuk mewartakan pembaharuan hidup kepada seluruh dunia dan umat manusia dengan membinasakan semua musuh-Nya. Dan seperti dikatakan Santo Paulus “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” (1Kor 15: 26 bdk. 1Tim 6:16; Rom 5: 21).

Penderitaan dan maut yang dialami Yesus Kristus adalah konsekuensi komitmen-Nya kepada tugas yang telah diserahkan Allah Bapa kepada-Nya — menyelamatkan dunia dan umat manusia dari dosa dan kebinasaan kekal. Namun, sekali lagi, maut tidak dapat mengalahkan-Nya. Justru Dia-lah yang telah mengalahkan maut dan bangkit jaya karena Kasih Allah Bapa kepada-Nya. Kebangkitan Kristus itulah fondasi iman Kristiani.

Maka alangkah naifnya ketika peristiwa yang bisa diciptakan dengan bantuan kecanggihan teknologi komputer dan lain-lainnya itu dapat menjadi sebuah berita yang menghebohkan. Kendati demikian, peristiwa semacam itu tetap memiliki daya tarik karena manusia umumnya sangat suka pada hal-hal yang sensasional, … kendati tetap artifisial, instan!!!

Ah, ada-ada saja! Manusia di zaman yang sangat modern ini masih juga mau dibohongi oleh kamajuan yang dia ciptakan sendiri. Lebih parah lagi, manusia zaman kita ini masih juga mau “diperalat” oleh sekelompok orang demi keuntungan pribadi/kelompoknya. Karena tujuannya jelas keuntungan material … alat apa saja bisa dipakai … termasuk “sensitivitas keagamaan”.

Hati Seorang Ibu!

 

Bacaan Liturgi hari ini, khususnya bacaan Injil, berbicara mengenai peristiwa Kanak-kanak Yesus yang dipersembahkan di dalam Bait Allah oleh kedua orangtua-Nya, Bapa Yosef dan Bunda Maria. Ketika Kanak-kanak Yesus dipersembahkan, Nabi Simeon mengungkapkan pujian syukurnya kepada Tuhan. Pujian syukur Simeon atas kedatangan “Sang Teran dunia” itu dilanjutkan hingga kini oleh Gereja semesta, yang diwakili oleh kaum religius dan imam serta beberapa kalangan awam, yang mendaraskan Kidung Simeon setiap pagi.

Selain itu, Simeon juga menyampaikan ramalannya kepada Bunda Maria bahwa “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2: 34i).

Sebagai manusia, ramalan tersebut bisa menjadi sebuah pukulan bagi Bunda Maria. Namun, dengan imannya yang mendalam, Bunda Maria menerima dan menyimpan semua perkataan itu dalam benaknya, sebagaimana kemudian dinyatakan oleh penginjil yang sama bahwa “Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Luk 2: 51c).

Sikap itu akan terus mewarnai perjalanan hidup dan “tugas mulia” Maria sebagai Bunda dan murid setia Putranya. Sepanjang hidupnya, sejak dari Betlehem hingga di bawah kaki Salib Putranya, Bunda Maria terus-menerus menjawab “Ya” kepada kehendak Allah. Dia melakukan semuanya itu dengan hatinya sebagai seorang Ibu.

Terima kasih Tuhan Yesus karena Engkau telah datang menjumpai dan menyapa kami melalui Ibu-Mu yang suci, Bunda Maria. Biarlah kami belajar pada Bunda-Mu untuk menjadi setia seperti dia. Amin.

Sebuah Hadiah untuk IBU dan BUNDA

Pengalaman mengurus International Standard Book Number (ISBN) kemarin sungguh menjadi sebuah pengalaman istimewa, pada hari istimewa. Kemarin, 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu. Mungkin pengalaman saya dan rekanku, Pater Yosef, kemarin hanya sebuah kebetulan semata! Namun, peristiwa yang kami alami sungguh memberi inspirasi, setidaknya bagi hidup dan karya kami di masa yang akan datang.

Ketika banyak orang, … mungkin! …. , terutama para penyelenggara negara ini, memperingati hari ini dengan melaksanakan apel Bendera di halaman instansi masing-masing, saya rekan saya melakukannya dengan cara yang sangat sederhana. Kami berangkat dari Bandung jam 06.00 WIB dengan menumpang kereta api Argo Gede menuju ke Gambir, dengan tujuan akhir Perpustakaan Nasional. Kami ingin mengajukan permohonan untuk ikut dalam sistem ISBN (pencatatan buku-buku yang diterbitkan dalam sebuah jaringan internasional). Rupanya semua urusan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Cuma sekitar 15 menit, kami sudah dapat membawa pulang ISBN dan berhak menggunakannya dalam buku-buku yang akan diterbitkan oleh Penerbit kami. Sasaran kami mendapatkan ISBN dan yang dilahirkan adalah sebuah penerbitan. Lahirlah MONTFORTINDO, sebuah penerbitan privat yang akan memusatkan perhatian pada publikasi karya-karya rohani Marial-Montfortan.

Seorang ibu melahirkan anak, entah seorang atau beberapa orang. Seorang anak, entah laki-laki atau perempuan, diharapkan dapat juga “melahirkan” … anak-anak rohani berupa karya-karya positif-konstruktif-inspiratif yang akan terpatri dalam batin insani.

Untuk setiap Ibu … dan kaum Ibu … dan secara khusus untuk “SEORANG BUNDA, YANG TELAH MENYIMPAN SEMUA PERKARA DALAM HATI DAN MERENUNGKANNYA”, kami persembahan pengalaman indah ini!

Bunda Maria, Ratu Segala Hati,
engkau yang telah melahirkan Yesus Kristus ke dunia,
buatlah Dia lahir pula di dalam hati kami masing-masing.

Untuk semua Saudara dan Saudariku yang sama-sama merayakan Natal, dari lubuk hati terdalam, saya mengucapkan, “SELAMAT HARI RAYA NATAL DAN TAHUN BARU!” Semoga rahmat dan semangat Natal meneguhkan kita untuk memasuki dan mengisi Tahun Baru dengan penuh semangat cinta kasih.

Putra Paulundu

Mengurus ISBN Memang … BENAR-BENAR MUDAH dan CEPAT!!!

Saya ingin membagikan pengalamanku hari ini, Selasa (22/12/09), dengan para pembaca, terutama dengan teman-teman yang sedang berencana untuk memulai usaha penerbitan buku “resmi” dengan label ISBN (International Standard Book Number). Ketika membaca sharing saya ini, Anda mungkin akan menemukan kemiripan pesan dengan beberapa catatan yang pernah dibuat oleh beberapa penulis blog lain. Saya telah membaca isi blog mereka mengenai proses pengurusan ISBN. Karena itu, saya pun merasa terdorong dan tertantang untuk mencoba mengurus ISBN juga untuk keperluan penerbitan buku-buku rohani tarekatku.

Saya harus mengatakan kepada Anda bahwa semula bicara soal ISBN itu sama seperti bicara mengenai internet dengan orang di kampung saya. Ada yang menyamakan internet dengan komputer. Dalam benak saya, angka-angka yang tertera pada ISBN itu kode yang dibuat oleh penerbit sendiri sebagai password buku yang diterbitkan. Artinya, penerbit sendirilah yang menentukan angka-angka itu. Namun, setelah membaca salah satu edisi Harian Kompas beberapa tahun silam, saya mengerti bahwa ternyata ada lembaga khusus yang memberi angka-angka dalam ISBN itu. Ketika saya mulai sering menjelajahi dunia maya, ternyata ada begitu banyak informasi yang saya dapatkan mengenai ISBN. Lebih dari itu, ada teman-teman penulis yang telah mengurus ISBN itu dan memperolehnya dengan sangat mudah. Nah, saya berusaha untuk melakukan beberapa langkah praktis sesuai dengan informasi dan saran teman-teman yang telah mengurus dan memperoleh ISBN. (Nah, di sini … saya harus berhenti sejenak untuk … berterima kasih kepada sesama narablog yang telah membagikan pengalamannya melalui artikel-artikel yang ditulis! Sekali lagi terima kasih untuk Anda semua!!!)

Dengan bekal macam-macam informasi yang dibagikan oleh para penulis blog atau komentar atas artikel-artikel dengan tema yang sama di dalam blog, saya menyiapkan semua persyaratan yang diminta. Saya mencetak Halaman Depan,
Kata Pengantar, dan Daftar Isi buku yang hendak diterbitkan. Tidak lupa saya juga membuat Sinopsis buku yang hendak diajukan itu. Selain syarat-syarat itu, saya juga menulis Surat Permohonan dengan sedikit motivasi untuk bergabung dalam sistem ISBN ini. Surat ini ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional, U. P. Tim ISBN/KTD Perpustakaan Nasional. Nah, yang juga penting adalah Stempel Penerbit (artinya kita sudah terlebih dahulu memilih nama penerbit), yang digunakan untuk memberi “cap” pada Surat Permohonan.

Setelah semua persyaratan itu disiapkan, saya menyampaikan rencana ini kepada teman sekomunitas (serumah) dan mengajak salah seorang teman untuk pergi bersama dengan saya ke Perpustakaan Nasional, Jakarta, dengan tujuan tersebut. Pastor Yosef, teman serumah sekaligus pemimpin rumah kami, siap untuk bersama-sama dengan saya melakukan “petualangan kecil” ini. Saya membawa juga stempel penerbit yang baru saja saya buat kemarin, Senin (21/12/09).

Pagi ini saya juga teman tetangga kamar saya, P. Yosef, bangun lebih awal. Jam 05.00 WIB kami diantar oleh Pastor Dwi menuju ke Stasiun Hall, Bandung. Hari masih pagi, udara masih segar dan bersih. Kami melangkah dengan pasti menuju ke dalam kereta dan menampati kursi kami. Tepat jam 06.00, Argo Gede bergerak menuju ke Jakarta. Perjalanan cukup lancar. Namun, kami menanti cukup lama di Stasiun Jatinegara karena masih mengantri sebelum masuk ke Gambir. Sekitar 09.30 Argo Gede tiba dan kami menuju ke Perpustakaan Nasional dengan menumpang taksi stasiun Gambir dengan karcis Rp40.000,00. Tiba di sana, kami langsung ke lobi yang agak masuk ke dalam. Kami menanyakan petugas Satpam yang berjaga di dekat pintu masuk. Ternyata kami salah. Mestinya kami berhenti di lobi sebelah kiri pelataran parker, yang paling pertama dilihat. Kami langsung masuk lift dan naik ke lantai 2. Keluar dari lift, mata saya langsung melihat tulisan ISBN/KDT. Di depan ruangan, saya melihat beberapa orang yang duduk. Kami berdua langsung masuk ke dalam ruangan — yang agak sempit untuk ukuran sebuah kantor. Melihat kami masuk, seorang lelaki muda, salah satu petugas di situ, langsung menyapa dan menanyakan maksud kedatangan kami. Saya pun mengatakan bahwa kami mau mengurus ISBN.

“Apakan Bapak membawa berkas persyaratannya?” Sebagai jawaban, saya membuka ransel dan mengeluarkan semua berkas yang telah saya siapkan dari Bandung kemudian menyerahkannya kepada petugas itu. Setelah itu, saya dan P. Yosef duduk di sofa tamu. Tak lama kemudian saya dipanggil lagi oleh petugas itu dan menyerahkan secarik kertas (setengah ukuran kertas A4). Ah, itu rupanya formulir Surat Pernyataan kesediaan untuk masuk ke dalam sistem ISBN. Termasuk di dalamnya soal berapa banyak buku yang hendak diterbitkan setiap tahun. Saya pun mengisi semuanya, menyerahkan kembali kepada petugas, dan kemudian saya kembali duduk sambil ngobrol dengan P. Yosef.

Sekitar 15 menit kemudian, petugas itu memanggil saya dan menyerahkan selembar kertas berisi identitas Perpustakaan Nasional dan alamat Penerbit kami. Di dalam sebuah daftar tertera judul buku yang kami ajukan bersama dengan ISBN dan tahun terbit (2009). Selembar bukti pembayaran dicap resmi diserahkan. Saya menyerahkan uang sebesar Rp25.000.00 (Duapuluh Lima Ribu Rupiah) karena saya hanya meminta nomor tanpa barcode ISBN.

Setelah mendapatkan ISBN dan menyalami petugas itu, kami hendak pulang. Ternyata di situ juga ada seseorang yang rupanya memperhatikan kami. Dia mantan karyawan sebuah penerbit dan percetakan besar di negeri ini. Kami pun terlibat obrolan yang singkat. Lucunya lagi kami mengobrol dengan bebas di ruangan itu. Setelah mengobrol ngalor-ngidul seputar percetakan, penerbitan buku, dll., kami pun pamit pulang dengan perasaan lega.

Sebuah langkah maju telah diayunkan. Kini tinggal mempercepat langkah agar tidak hanya berjalan tetapi juga berlari. Bila perlu berlari sekencang mungkin untuk mencapai garis akhir … menjadi JUARA !!!

Nah, para pembaca dan teman-teman, demikian sharing saya. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Para peminat buku dan yang bermimpi mau menjadi seorang pemilik Penerbitan … jangan biarkan mimpi Anda tinggal mimpi. Wujudkan impian Anda! Selain itu, mari kita dukung pemerintah kita dalam melestarikan buah karya anak bangsa dengan mendaftarkan penerbitan Anda ke bagian ISBN/KDT di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Salemba Raya 28A JAKARTA.

Saya berterima kasih kepada petugas yang telah melayani kami dengan murah hati. Semoga Anda diberkati oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah-limpah. Saya pun bermimpi … “Seandainya … segala urusan dengan para birokrat bisa selancar dan semudah urusan ISBN ini … saya yakin bangsa ini akan jauh lebih maju! Mimpi saya telah menjadi sebuah kenyataan … setidaknya untuk mendapatkan ISBN. Namun mimpi ini bukan demi kebesaran saya tetapi terutama demi meningkatkan mutu karya pelayanan tarekat saya kepada Gereja dan Tanah Air tercinta ini.

Sebuah prinsip terpatri dalam hati: “Kita tidak akan maju kalau kita tidak berani mengayunkan langkah! Ketika sebuah langkah telah diayunkan … kita tidak hanya akan berjalan tetapi mungkin juga berlari … Dan kekuatan itu ada di dalam hati … yang berani!!”

Putra Paulundu

Dilaksanakan dalam Cakupan Cinta Allah

18 Desember 2009
Jumat ke-3 Masa Adven

Bacaan Liturgi hari ini:
Yeremia 23: 5-8
Mazmur 72: 1-2, 12-13, 18-19
Mateus 1: 18-25

Renungan Singkat untuk kita:

Kesehatan mental dan material sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh para pemimpin yang memimpin rakyatnya sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan Ilahi.

Nabi Yeremia memilih untuk bernubuat pada masa kelap persis sebelum kejatuhan Yehuda yang diperlemah oleh ketidakmampuan raja Zedekia. Sang nabi meyakinkan bangsanya bahwa Allah akan membaharui bangsa itu melalui seorang pemimpin yang beraasal dari keturunan Daud. Dia akan berkuasa dengan kebijaksanaan dan kekuatan. Dia akan mengumpulkan kembali seluruh bangsa Israel yang tercerai-berai dan akan membantu mereka untuk berkembang biak dan bertambah banyak.

Dia menyebut sang Penguasa baru itu sebagai “Tuhan Keadilan kita”. Mazmur 72 menambahkan bahwa pemimpin ini tidak hanya adil dan bijaksana. Dia juga akan menunjukkan belaskasihannya kepada mereka yang miskin dan tertekan dengan melakukan kebaikan bagi yang hina-dina dan yang terabaikan, dan merendahkan orang yang angkuh hatinya.

Bacaan Injil hari ini menyajikan kepada kita seorang pria yang sedang berada dalam situasi yang mengandaikan keyakinan mendalam, iman mutlak kepada Allah dan cinta tanpa pamrih kepada perempuan yang hendak dia nikahi, karena perempuan itu didapati “telah mengandung seorang anak”. Andaikata Yosef bersikeras untuk tetap mengikuti hukum “keadilan yang dingin dan kaku” itu, dia dapat saja menuntut pemulihan nama baiknya, suatu langkah yang pasti akan meluluhlantakkan kehidupan Maria dan keluarganya. Namun, dia kemudian berpikir untuk “menceraikan” Maria dengan diam-diam, hingga Allah mengutus seorang malaikat kepadanya dalam sebuah mimpi untuk menjelaskan bahwa anak yang dikandung Maria itu berasal dari Roh Kudus.

Maria telah dipilih untuk memenuhi nubuat nabi bahwa seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang Putra yang akan dinamai “Emmanuel,” yang berarti “Allah-beserta-kita”. Di sini kita melihat bahwa hidup benar di hadapan Allah tidak hanya menuntut iman, ketaatan, kebijaksanaan, dan keadilan, tetapi jika semua itu dilaksanakan terpisah dari CintaNya, itu menjadi sebuah kemunafikan yang sangat kejam. Karena itu, semuanya mesti dilaksanakan dalam cakupan (bingkai) cinta Allah. 

Allah Bapa yang Mahakuasa,
Engkau telah membangkitkan Tuhan kami Yesus Kristus melalui seorang perawan yang bersahaja, Bunda Maria.

Semoga kami memuliakan karya agungMu yang mempersatukan seluruh umat manusia dalam cintaMu. Amin.

Putra Paulundu

DIA: Bagian Sejarah Hidup Kita Manusia

17 Desember 2009
Kamis Pekan ketiga Masa Adven

Bacaan Liturgi Hari Ini:
Kejadian 49: 2, 8-10
Mazmur 72: 1-2, 3-4ab, 7-8, 17
Mateus 1: 1-17

Renungan Singkat untuk Kita:

Hari ini kita mendengar bacaan Injil Mateus yang berkisah mengenai silsilah Yesus dengan daftar nama orang yang begitu panjang. Banyak nama telah akrab di telinga kita dan dapat kita ingat dengan mudah. Namun, ada lebih banyak nama yang sangat jarang kita dengar. Sebutlah beberapa nama yang cukup akrab: Abraham, Ishak, Yakub, Salomo, Daud. Nama-nama lain tidak begitu sering kita dengar.

Namun, terlepas dari apakah nama-nama itu gampang kita ingat atau tidak, ada satu hal yang mau ditegaskan dengan daftar silsilah Tuhan Yesus ini. Allah yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, merancang rencana penyelamatanNya atas umat manusia dengan melibatkan umat manusia. Putra Allah yang Mahatinggi telah mengosongkan diriNya dan meninggalkan kemuliaanNya agar sungguh dapat menjadi bagian sejarah dunia dan hidup umat manusia.

Allah masuk ke dalam sejarah dunia dan umat manusia agar kemuliaan karyaNya menjadi nyata bagi segala bangsa. Kitab Kejadian dalam bacaan pertama hari ini menyatakan, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa” (Kej 49: 10). Ini terjadi karena kesetiaan dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh Bapa-bapa bangsa itu. Mereka setia kepada perjanjian yang telah diadakan oleh Yahweh. Kendati demikian, harus disadari bahwa kesetiaan mereka terus-menerus diuji dalam perjalanan waktu ketika mereka harus jatuh-bangun menghayati perjanjian itu.

Jika kita mau agar Tuhan Yesus lahir di dalam hidup kita, di dalam hati kita, kita diundang untuk menghayati kesetiaan dan kerelaan untuk berkorban seperti para Bapa bangsa itu. Marilah kita mengosongkan diri kita dari segala halangan agar Tuhan Yesus sungguh lahir di dalam hati kita dan di tengah keluarga kita.

Putra Paulundu

Keragu-raguan: Kesempatan Pematangan Iman!

 

Bacaan Liturgi Hari ini:
Yesaya 45: 6b-8, 18, 21b-25
Mazmur 85: 9ab dan 10, 11-12, 13-14
Lukas 7: 18b-23

Renungan Singkat untuk kita:

Hariini kita mendengar bagaimana Yohanes Pembaptis mengutus dua orang muridnya menemui Tuhan Yesus untuk menanyakan apakah Yesus itu sungguh Penyelamat yang diutus oleh Allah. Bagi kita, peristiwa ini tentu saja mengundang tanda Tanya. Mengapa demikian? Bukankah justru Yohanes dahulu yang dengan terang-jelas menyebut Yesus sebagai, “Anak Domba Allah” dan “Putra Allah”? Lantas mengapa Yohanes malah tampak begitu ragu mengenai identitas sejati Yesus?

Terlepas dari apapun alasannya, karena kita tidak tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam benak Yohanes Pembaptis, kita sadar bahwa keraguan akan iman seseorang adalah hal yang sangat umum terjadi. Kita ingat, para rasul sendiri dahulu juga berjuang dengan keragu-raguan mereka, dan selama berabad-abad banyak orang kudus yang telah melalui saat-saat sulit ketika mereka sungguh mempertanyakan iman mereka dan ke-Allah-an Yesus. Banyak juga di antara kita yang mengalami situasi yang sama pada suatu ketika di dalam kehidupan kita. Bahkan ada banyak orang yang semula begitu setia kemudian kehilangan semangat dalam menghayati iman mereka tanpa alasan yang jelas.

Namun, ada satu hal yang menarik bahwa kadang-kadang orang-orang yang demikian kemudian berbalik arah dan iman mereka justru menjadi jauh lebih teguh.

Menjawab pertanyaan kedua murid Yohanes, Yesus menjawab, “Pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang telah kamu lihat dan kamu dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dihidupkan kembali, orang miskin mendapat kabar gembira.” Yesus memang tidak mendasarkan pelayananNya atas pelbagai mujizat tetapi Dia menampilkan cukup banyak mujizat sebagai bukti dan kesaksian mengenai Siapakah Dia. Karena itu, kita dipanggil untuk berbalik lagi setelah melewati saat-saat keragu-raguan dan mulai untuk bertumbuh lebih lanjut.

Putra Paulundu

Pengalaman “Memalukan”!

Pagi ini saya mengalami sebuah peristiwa kecil, sederhana, tetapi menohok kesadaranku. Ketika saya sedang bekerja di depan komputer di ruang kerjaku, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Saya segera membuka pintu. Di luar pagar, saya melihat seorang pria usia setengah baya bersama dengan isterinya, yang mengenakan jilbab, dan seorang anak kecil. Umur anak ini pasti baru setahun. Saya menemui mereka. Pria ini kemudian menyodorkan sesuatu kepada saya sambil berkata, “Apakah ini milik alamat rumah ini?”

Saya menerima kertas yang terbungkus plastik itu. Setelah melihat identitas yang tertera di dalamnya, saya yakin bahwa itu STNK motor GL Max milik komunitas. Saya pun menanyakan pria itu, “Di mana Anda menemukan STNK ini, Pak?” Dia mengatakan bahwa dia menemukannya di BEC. Saya pun membenarkan bahwa lebih dari sepekan silam, salah seorang konfrater (teman) menggunakan motor itu dan STNK motor itu terjatuh di salah satu tempat. Diperkirakan kejadiannya di BEC karena dia sedang berbelanja di sana. Saya pun mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Dia pun pamit dan menghidupkan motor untuk meneruskan perjalanannya bersama isteri dan anaknya.

Setelah mereka pergi, saya baru menyadari … ada sesuatu yang salah dengan saya. O iya … saya menjadi begitu dingin! Lalu saya pun menyalahkan diri saya sambil bertanya pada diri sendiri … “Mengapa saya tidak mengajak mereka itu masuk dan mempersilahkan minum atau sekadar ngobrol? Koq saya menjadi begitu cuek ya??! Padahal orang itu sudah berbaik hati untuk mengantarkan kembali STNK itu. Lebih dari itu, dia dan isteri serta anaknya datang dari daerah Cimahi!”

Wah … wah … ! Ini sebuah isyarat bagi saya agar dapat segera menyegarkan kembali hidup saya. Saya terlalu sibuk dengan uruan saya dan kemudian kehilangan “rasa sosial” saya. Padahal hidup ini bukan sekadar untuk bekerja atau sibuk … dengan urusan diri sendiri. Saya hidup bersama dengan orang lain, dengan sesama. Ah, maafkan saya, Saudara …! Anda telah berbaik hati denga saya tetapi saya tidak merasa cukup berterima kasih atas kebaikan hati Anda. Semoga Tuhan memberkati Anda dan keluarga!

Putra Paulundu