Pertama-tama saya harus mengatakan bahwa saya bukanlah tipe pribadi yang suka latah atau ikut-ikutan. Apalagi saya mempunyai tugas saya sendiri yang mesti dipertanggungjawabkan juga. Namun, setelah melalui media massa (cetak dan elektronik) mencoba untuk mengikuti proses penyelidikan kasus Bank Century oleh Pansus DPR RI, saya secara pribadi merasa terusik juga. Terlebih ketika ada beberapa peristiwa “ganjil” yang terjadi di dalam ruang sidang Pansus Century, saya merasa terdorong untuk menuangkan kegalauan dan keprihatinan saya dalam catatan berikut ini. Catatan ini adalah sebentuk ungkapan sederhana bahwa dalam peristiwa apapun selalu ada pelajaran penting yang bisa dipetik untuk kehidupan lebih lanjut yang lebih baik, baik pada tataran personal ataupun komunal.
Pertama, sebagai sebuah bangsa, kita sedang dalam taraf belajar untuk berdemokrasi. Karena itu, ada begitu banyak hal yang membutuhkan perhatian seluruh komponen bangsa ini. Di sini, para pemangku jabatan kepemerintahan mempunyai peran istimewa dan menentukan dalam perjalanan hidup bangsa dan negara ini. Saya sengaja menempatkan para pemangku jabatan kepemerintahan pada posisi pertama karena merekalah yang memegang kekuasaan “eksekutif”. Mereka mempunyai kesempatan untuk membuat aneka keputusan strategis, keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi hajat hidup seluruh warga bangsa ini. Nah, mereka ini mempunyai tugas yang amat berat karena mereka tidak hanya berurusan dengan satu atau dua orang tetapi dengan ratusan juta manusia Indonesia, entah langsung ataupun tidak langsung.
Nah, dalam menerapkan/melaksanakan tugas yang amat berat, sudah semestinya mereka sungguh menjaga dan memelihara tanggung jawab pribadi. Persis di sinilah fungsi hati nurani mesti sungguh diperhatikan sebagai benteng “kontrol dan perlindungan internal” agar penyelewengan dari peraturan yang berlaku dapat diminimalisir sedapat mungkin. Tanpa hati nurani yang berfungsi baik, penyelenggara negara akan dengan mudah menelikung segala peraturan dengan alasan apa saja dan demi kepentingan apa saja (jangka panjang dan pendek) dan untuk siapa saja (keluarga, kelompok, rekan bisinis, dll).
Kedua, dalam konteks yang sama, banyak komponen bangsa ini, terutama para aktivis sosial-politis, aktivis lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, dan lain-lainnya, yang kebablasan dalam mengartikan “demokrasi”. Demokrasi diartikan sebagai kebebasan untuk mengekspresikan pendapatan, pandangan, dan perasaan sebebas-bebasnya tanpa kendali, tanpa batas, liar-binal.
Sebagai sebuah contoh yang hampir pasti masih sangat segar dalam ingatan adalah proses pemeriksaan terhadapa dua pejabat negara, yakni Wakil Presiden, Pak Budiono, dan Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani. Ketika sedang diperiksa, pada waktu yang terpisah, keduanya sama-sama diteriaki “maling” oleh salah seorang aktivis gerakan pemberantasan korupsi atau apapun namanya. Mungkin tindakan itu adalah ungkapan kekesalan dan kekecewaan yang telah lama ditimbun. Namun, tindakan semacam itu hanyalah sebuah ekspresi ketidakdewasaan kita dalam menghadapi persoalan. Pertanyaan saya, apakah tepat dan benar kalau kedua pejabat negara itu adalah maling? Kalau mereka maling, lantas siapakah kita ini? Jika mereka dianggap sebagai vampir yang haus darah, lantas siapakah kita ini? Mereka adalah representasi bangsa dan negara kita. Karena itu, pantaslah kita menghormati mereka. Tidaklah sepantasnya kita bertindak sedemikian arogan tanpa pernah mau melihat juga diri sendiri dan bertanya: apakah saya sudah sungguh bersih, dalam kadar apapun?! Jika mereka memang terbukti melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan, bukankah negara kita mempunyai hukum? Maka, marilah kita gunakan hati nurani kita untuk menilai setiap persoalan. Jangan membiarkan diri ditunggangi oleh pelbagai kepentingan, apalagi kalau itu kepentingan egosentris, primordial!
Selain itu, tanpa kontrol hati nurani, para pemegang kekuasaan dapat juga terjebak ke dalam sikap arogansi yang menghancurkan martabat sesama dan tentu saja diri sendiri. Mari kita lihat contoh lainnya, yakni ucapan dan sikap anggota Pansus, Ruhut Sitompul, dalam salah satu sesi rapat pansus belum lama ini. Ketika berdebat dengan salah satu pimpinan sidang, Ruhut mengeluarkan kata-kata yang sangat tak layak dan pantas. “Bangsat!” Kalau dilihat dengan akal sehat, Ruhut Sitompul tak pantas untuk menyandang “gelar kehormatan” sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, mungkin hanya sangat pandai bersilat lidah! Selain itu, logikanya pun “hancur”. Dia berani mencap sesama anggota dewan sebagai “bangsat” (= kecoa?!), sementara dia sendiri adalah anggota dewan pula. Nah, kalau ditarik kesimpulannya seperti apa? Dia itu siapa atau apa? [Sebagai warga negara dan rakyat biasa, saya merasa sangat malu mempunyai wakil rakyat yang sikap dan perilakunya sangat rendah!]
Oleh karena itu, baiklah para pemegang kekuasaan, para pejuang penegakan keadilan dan pemrihati nasib bangsa ini, semuanya belajar untuk berdemokrasi secara dewasa. Para pemimpin kita adalah manusia biasa seperti kita juga. Berilah mereka kesempatan untuk mengolah dan membangun negara ini dengan baik. Mari kita dukung mereka dengan sikap kritis tetapi tetap dengan menjaga dan mempertahankan sopan santun. Sesama pemimpin adalah juga manusia, yang punya hati dan perasaan. Jika di negara lain sering terjadi kericuhan dan perkelahian dalam pertemuan parlemen atau pemerintah, fenomena seperti itu bukanlah sebuah justifikasi atas tindakan kita untuk menghina para pejabat negara kita atau untuk mempertontonkan arogansi sikap terhadap sesama.
Akhirnya, saya mengharapkan bahwa pelbagai persoalan yang melilit bangsa ini secepatnya dapat diselesaikan agar roda pembangunan bangsa dan negara ini dapat bergulir lebih cepat. Andaikata kita tidak menyadari betapa penting roda pembangunan terus berjalan, percaya saja bahwa kita akan terus tertinggal dan kemudian tergilas oleh kemajuan bangsa lain. Marilah kita ingat segala kesepakatan mengenai perdagangan bebas yang telah ditandatangani/disetujui oleh para pemimpin negara kita ini.
Maju terus bangsaku, bersatulah warga negaraku! Hidup Pancasila!!!





